Program K3

1. Health Risk Assessment (HRA)

 

a. Pengertian
HRA adalah sebuah langkah penilaian risiko di tempat kerja yang dapat menimbulkan dampak/gangguan pada kesehatan pada pekerja Dalam upaya K3, basis dasarnya adalah loss control dan loss prevention. Keduanya berbasis pada hal yang sama yaitu: manajemen risiko K3. Risiko K3 sendiri muncul dari adanya hazards. Hazard(s) didefinisikan sebagai potential for harm in terms of human injury or ill health, or a combination of these”. Dari definisi ini juga terlihat bahwa resiko yang dimanage termasuk risiko kesehatan (risiko terhadap terjadinya ‘ill health’). Ill health physical or mental condition arising from and/or made worse by work activity and/or work
risiko yang dibahas adalah potensi penyakit yang muncul akibat pekerjaan atau yang dipengaruhi oleh faktor pekerjaan.

Pada dasarnya Health Risk Assessment dengan HIRA Safety secara umum. Jadi dengan menilai kombinasi likelihood dan consequence oleh suatu hazard. Yang membedakannya hanyalah pendekatan terhadap hazards. Dalam safety, hazards muncul dari faktor elektrik, mekanis, kinetis, dll. Sedangkan aspek kesehatan hazards dilihat sebagai faktor fisika, biologi, kimia, ergonomic, dan psikososial. Kemudian dalam pendekatan terhadap risiko potensi yang terjadi pada safety, yang diidentifikasi adalah ‘cedera atau injury’ yang muncul bersifat akut sedangkan pada kesehatan, yang diidentifikasi adalah ‘gangguan fungsi atau munculnya suatu penyakit’ sehingga lebih bersifat ‘long term’. Program ini fokusnya diarahkan kepada tiga hal yaitu:

  • Pengendalian di tempat asal hazard (‘source’)
  • Pengendalian di jalur atau mode paparan (‘exposure’)
  • Pengendalian pada orang yang terpajan (‘host’)

b. Tahapan Yang Dilakukan

  1. Persiapan : Meliputi persiapan terhadap personil, ruang lingkup manajemen risiko, prosedur kerja serta dokumentasi terkait
  2. Identifikasi bahaya : Data-data tempat kerja, MSDS untuk bahan kimia dll
  3. Analisa Risiko > akibat dan kemungkinan
  4. Evaluasi Risiko : Kualitatif, semi kuantitatif dan Kuantitatif
  5. Pengendalian Risiko Eliminasi
    • Subtitusi
    • Rekayasa Teknik
    • Administratif
    • Alat Pelindung Diri

JOB ANALYSIS
a Pengertian
“Ergonomic Job Analysis” adalah suatu methodologi dalam ergonomi yang bertujuan membandingkan kegiatan suatu pekerjaan dengan kemampuan manusia.

b. Manfaat

  • Mengidentifikasi faktor risiko dan faktor bahaya di tempat kerja. Merancang tempat kerja dan peralatan kerja
  • Memberi penyuluhan kepada pekerja
  • Melatih para manajer, supervisor dan pekerja
  • Meningkatkan produktivitas
  • Memperbaiki cara kerja/prosedur kerja
  • Menghilangkan “human error” dengan demikian meningkatkan mutu produk
  • Meningkatkan kepuasan kerja para pekerja
  • Menurunkan angka absensi
  • Mencegah penyakit dan kecelakaan akibat kerja
  • Menginformasikan tuntutan pekerjaan kepada profesi
  • Mengevaluasi kemampuan seorang pekerja kembali bekerja
  • Mengevaluasi upaya pengendalian yang telah dilakukan

3. ERGONOMIC ASSESSMENT

a. Pengertian
“Ergonomic Job Analysis” adalah suatu metodologi dalam ergonomi yang bertujuan membandingkan kegiatan suatu pekerjaan dengan kemampuan manusia.
b. Tujuan Penerapan Konsep Ergonomi
Keselamatan & Kesehatan Kerja:

  • Mengurangi risiko terjadinya kecelakaan kerja
  • Menurunkan insidens berbagai penyakit akibat kerja
  • Meningkatkan efektifitas dan efisiensi dari suatu pekerjaan:
  • Peningkatan kemudahan penggunaan sistem
  • Penurunan kesalahan
  • Peningkatan produktifitas

Reliability & Kualitas:

  • Bagi industri tertentu, tujuannya bukan terutama produktivitas tetapi reliabilitas, penerbangan, tambang
  • Mempertahankan kualitas produk

Kepuasan Kerja & Pengembangan Pribadi

  • Meningkatkan kenyamanan:
  • Peningkatan keamanan
  • Pengurangan kelelahan dan stres
  • Kesempatan untuk pengembangan diri

Sasaran

  • Lingkungan fisik:
    • Suhu ekstrem, penerangan, bising, vibrasi.
  • Aspek fisik & fisiologis dari pekerjaan:
    • Anthropometri, Kerja otot, beban kerja, shift kerja
  • Aspek psikologis:
    • Beban mental, tingkat stress

4. MENTAL HEALTH ASSESSMENT

Tujuan

  1. Deteksi dini konisi kesehatan mental pekerja
  2. Mengetahui penyebab inproductivity pekerjan yang terkait dengan  kesehatan mental
  3. Menurunkan budget pembiayaan terkait dengan terapi/pengobatan kesehatan jiwa/mental pekerja
  4. Meningkatkan produktivitas perusahaan
  5. Sistem pelaporan data penulusuran masalah kesehatan mental pekerja secara baik dan sistem
  6. Memenuhi aspek perundang

METODA DEVELOPMENT PROGRAM

METODA DEVELOPMENT PROGRAM

5. WEIGHT AND LIPID MANAGEMENT

TUJUAN
Adapun program ini bertujuan antara lain:

  1. Meningkatkan status kesehatan individu dengan penerapan sikap yang benar
  2. Meningkatkan produktivitas kerja individu
  3. Meningkatkan self confidence individu
  4. Penurunan risiko penyakit degenerative dengan

6. PROGRAM GIZI KERJA

Pengertian
Gizi kerja: nutrisi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerja.
Tujuan: mendapatkan nutrisi yang sesuai untuk peningkatan derajat kesehatan, sehingga menghasilkan produktivitas kerja yang optimal

Program

  • Penilaian status gizi karyawan
  • Penilaian kecukupan gizi kerja bagi karyawan
  • Penilaian penyediaan makanan di kantin
  • Pencegahan keracunan makanan
  • Penyuluhan mengenai gizi kerja kepada
  • Pembinaan penjaja makanan
  • Kesegaran jasmani dan pola hidup sehat
  • Uji makanan dan menentukan tolok ukur

7. PROGRAM BERHENTI MEROKOK

Tujuan umum:
Meningkatkan kesadaran pekerja untuk merubah gaya hidup dan perilaku yang berhubungan dengan merokok meningkatkan derajat kesehatan pekerja secara optimal.

Tujuan khusus:

  • Memberikan pengetahuan tentang bahaya merokok bagi kesehatan sehingga meningkatkan kesadaran akan bahaya rokok
  • Mendorong pekerja untuk merubah gaya hidup dan perilaku dengan berhenti merokok
  • Memberikan dukungan bagi pekerja yang mau berhenti merokok

8. LAIN-LAIN
Dan masih banyak lagi program kesehatan kerja yang dapat dilaksanakan di perusahaan untuk meningkatkan produktivitas dan derajat kesehatan karyawan

Manajemen Pembiayaan Kesehatan

1. Tujuan:

  • Pengontrolan biaya yang dikeluarkan
  • Memonitor trend setter penyakit yang dikeluhkan
  • Sebagai wakil manajemen untuk melakukan verifikasi kepada provider layanan kesehatan
  • Verifikator terhadap klaim yang diajukan

2. Target:

  • Rasionalisasi pembiayaan kesehatan
  • Melihat kecenderungan pola penyakit karyawan dan keluarga
  • Melakukan review terhadap system pembiayaan kesehatan yang efektif dan efisien

Medical Check UP On Site

MEDICAL CHECK UP ONSITE

  1. Definisi: adalah medical check up sebagai sarana skrining kesehatan karyawan yang dapat dilakukan di tempat perusahaan
  2. Keunggulan:
    • Penghematan dari sisi waktu yang terbuang dari karyawan untuk  melakukan medical check up, karena dilaksanakan di tempat
    • Waktu produksi tidak berhenti, karena jadwal peserta bisa digilir
    • Pengawasan manajemen lebih ketat terutama dari sisi karyawan yang berkewajiban melakukan tes
    • Pihak kami bisa juga langsung melakukan pemeriksaan tempat kerja bila ada permintaan manajemen terutama yang terkait dengan keluhan karyawan
    • Pelaksanaan tepat waktu sesuai jadwal
  3. Fasilitas layanan:
    • Layout design untuk medical check up dari kami dan akan dipasang H-1
    • Snack untuk pemeriksaan gula darah
    • Hasil soft copy dan hard copy
    • Presentasi hasil MCU
    • Analisa tren penyakit/surveillance medis
    • Konsultasi hasil pasca MCU

Layanan Kesehatan Perusahaan

1. Tujuan Dan Sasaran Layanan Kesehatan Perusahaan dalam K3

Tujuan Layanan Kesehatan Perusahaan adalah pengendalian risiko dengan penciptaan suatu system keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur pencegahan dan mengurangi risiko kecelakaan kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. Sasarannya adalah tenaga kesehatan (Dokter dan Paramedis).

2. Upaya Klinik Perusahaan dalam K3

Berdasarkan Permenakertrans No.: Per. 03/Men/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja, bentuk Pelayanan Kesehatan Kerja harus di bawah tanggung jawab seorang dokter yang telah memenuhi persyaratan yang antara lain telah mengikuti pelatihan hiperkes bagi dokter perusahaan. Demikian juga paramedis di poliklinik mengikuti pelatihan hiperkes bagi paramedis dimaksudkan agar pencegahan dan pengobatan penyakit umum dan penyakit akibat kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku .

3. Pelayanan

  • Penyediaan layanan Medis regular/Pelayanan Klinik Perusahaan dengan Dokter dan Perawat
  • Pelaksanaan program preventif dan promotif kesehatan melalui program kesehatan/edukasi kepada karyawan
  • Pengontrolan klaim biaya kesehatan/claim reimbursement
  • Training program: First Aid training
  • Pelayanan system rujukan dan kegawatdaruratan
  • Penyediaan apotik kecil/depo obat-obatan